Please Enable Javascript for Optimal Feature Usage Then Refresh This Page

SURABAYA LANDMARK

Architecture, Icon Design, Illustration

5240 4 2

SURABAYA LANDMARK

Architecture, Icon Design, Illustration


Surabaya Landmark by Royyan Wijaya (RoyyanWijaya),arsitektur,desain ikon,ilustrasi
MONUMEN JALASVEVA JAYAMAHE Monumen Jalesveva Jayamahe atau Monjaya adalah sebuah monumen yang terletak di Kota Surabaya, Jawa Timur. Monumen ini menggambarkan sosok Perwira TNI Angkatan Laut berbusana Pakaian Dinas Upacara (PDU) lengkap dengan pedang kehormatan yang sedang menerawang ke arah laut, serasa siap menantang gelombang dan badai di lautan, begitu pula yang ingin di perlihatkan bahwa angkatan laut Indonesia siap berjaya. Patung tersebut berdiri di atas bangunan dan tingginya mencapai 30,6 meter. Monumen Jalesveva Jayamahe menggambarkan generasi penerus bangsa yang yakin dan optimis untuk mencapai cita-cita bangsa Indonesia.[1] Monumen Jalesveva Jayamahe ini juga sesuai dengan motto angkatan laut Jalesveva Jayamahe yang berarti, Di Laut Kita Berjaya. Monumen ini dibangun pada tahun 1993 oleh Pemimpin Kepala Staf TNI Angkatan Laut Maritim Indonesia yang kemudian dilanjutkan dengan Laksamana TNI Muhamad Arifin dan dirancang oleh I Nyoman Nuarta. Selain sebagai monumen, bangunan ini juga difungsikan sebagai mercusuar bagi kapal-kapal yang ada di laut sekitar. Sumber: WIkipedia
Surabaya Landmark by Royyan Wijaya (RoyyanWijaya),arsitektur,desain ikon,ilustrasi
TUGU PAHLAWAN Tugu Pahlawan adalah sebuah monumen yang menjadi markah tanah Kota Surabaya. Tinggi monumen ini adalah 41,15 meter dan berbentuk lingga atau paku terbalik. Tubuh monumen berbentuk lengkungan-lengkungan (Canalures) sebanyak 10 lengkungan, dan terbagi atas 11 ruas. Tinggi, ruas, dan canalures mengandung makna tanggal 10, bulan 11, tahun 1945. Suatu tanggal bersejarah, bukan hanya bagi penduduk Kota Surabaya, tetapi juga bagi seluruh Rakyat Indonesia. Tugu Pahlawan dibangun untuk memperingati peristiwa Pertempuran 10 November 1945 di Surabaya, di mana arek-arek Suroboyo berjuang melawan pasukan Sekutu bersama Belanda yang hendak menjajah kembali Indonesia. Monumen Tugu Pahlawan menjadi pusat perhatian setiap tanggal 10 November mengenang peristiwa pada tahun 1945 ketika banyak pahlawan yang gugur dalam perang kemerdekaan. Sumber: Wikipedia
Surabaya Landmark by Royyan Wijaya (RoyyanWijaya),arsitektur,desain ikon,ilustrasi
MONUMEN BAMBU RUNCING Bambu Runcing adalah senjata tradisional yang digunakan oleh tentara Indonesia dalam pertempuran melawan kolonialisme Belanda. Tepatnya pada 10 November1945, yang sekarang dirayakan sebagai Hari Pahlawan. Pada masa peperangan, bambu dibentuk meruncing layaknya tombak untuk menusuk musuh. Bambu runcing ini dibuat berkaitan dengan terbatasnya senjata modern yang ada dan untuk menunjukkan semangat di antara para prajurit sebagai warga sipil Indonesia. Untuk itulah, Monumen Bambu Runcing ini dibangun, dan terletak di jalan Panglima Sudirman. Monumen Bambu Runcing adalah ikon pariwisata Surabaya yang berhubungan dengan situs sejarah perjuangan bangsa. Sumber: http://www.eastjava.com/tourism/surabaya/ina/bamboo-monument.html
Surabaya Landmark by Royyan Wijaya (RoyyanWijaya),arsitektur,desain ikon,ilustrasi
MONUMEN KAPAL SELAM AKA MONKASEL Monumen Kapal Selam, atau disingkat Monkasel, adalah sebuah museum kapal selam yang terdapat di Embong Kaliasin, Genteng, Surabaya. Terletak di pusat kota, monumen ini sebenarnya merupakan kapal selam KRI Pasopati 410, salah satu armada Angkatan Laut Republik Indonesia buatan Uni Soviet tahun 1952. Kapal selam ini pernah dilibatkan dalam Pertempuran Laut Aru untuk membebaskan Irian Barat dari pendudukan Belanda. Kapal Selam ini kemudian dibawa ke darat dan dijadikan monumen untuk memperingati keberanian pahlawan Indonesia. Monumen ini berada di Jalan Pemuda, tepat di sebelah Plasa Surabaya. Selain itu di tempat ini juga terdapat sebuah pemutaran film, di mana ditampilkan proses peperangan yang terjadi di Laut Aru. Jika ingin mengunjungi tempat wisata ini, maka akan ditemani oleh seorang pemandu lokal yang terdapat di sana Ada cerita unik di balik hadirnya monumen Kapal Selam ini. Pada suatu malam Pak Drajat Budiyanto yang merupakan mantan KKM KRI Pasopati 410 (buatan Rusia) ini dan juga mantan KKM KRI Cakra 401 (buatan Jerman Barat), bermimpi diperintahkan oleh KSAL pada waktu itu untuk membawa kapal selam ini melayari Kali Mas. Ternyata mimpi itu menjadi kenyataan. Dia ditugaskan untuk memajang kapal selam di samping Surabaya Plaza. Caranya dengan memotong kapal selam ini menjadi beberapa bagian, kemudian diangkut ke darat, dan dirangkai dan disambung kembali menjadi kapal selam yang utuh. Sumber: Wikipedia
Surabaya Landmark by Royyan Wijaya (RoyyanWijaya),arsitektur,desain ikon,ilustrasi
MONUMEN GUBERNUR SURYO Monumen Gubernur Suryo adalah monumen penghormatan yang ditujukan untuk Gubernur pertama Jawa Timur yang telah terbunuh selama pemberontakan PKI di Madiun tahun 1948. Monumen ini terletak di Kompleks Taman Apsari di Jalan Gubernur Suryo di depan Gedung Negara Grahadi. Di bawah patung terdapat prasasti yang ditulis pada 9 November 1945, pukul 23.00 PM di Nirom Broadcast, Jalan Embong Malang Surabaya (saat ini Hotel JW Marriot). Prasasti tersebut berbunyi: "Berulang kali kami telah diberitahu bahwa lebih baik jatuh berkeping-keping daripada dijajah lagi. Dan sekarang dalam menghadapi ultimatum Inggris, kita akan berpegang teguh untuk menolak ultimatum " Selain sebagai simbol kebesaran Gubernur Suryo, di sekitar monumen tersebut juga selalu di jadikan tempat berkumpul pemuda pemudi Surabaya saat malam minggu atau saat malam di hari-hari biasa. Sumber: http://www.eastjava.com/tourism/surabaya/ina/governor-suryo-monument.html
Surabaya Landmark by Royyan Wijaya (RoyyanWijaya),arsitektur,desain ikon,ilustrasi
MONUMEN SUROBOYO Patung Sura dan Buaya (Jawa: Patung Suro lan Boyo) adalah sebuah patung yang merupakan lambang Kota Surabaya. Patung ini berada di depan Kebun Binatang Surabaya. Patung ini terdiri atas dua hewan ini yang menjadi inspirasi nama kota Surabaya: ikan sura dan buaya. Sumber: Wikipedia
Surabaya Landmark by Royyan Wijaya (RoyyanWijaya),arsitektur,desain ikon,ilustrasi
GEDUNG BALAI KOTA SURABAYA Surabaya sebagai Resort Gemeente (Haminte) secara resmi mulai berdiri pada tanggal 1 April 1906. Sebelumnya Surabaya merupakan bagian dari karesidenan Pemerintah Haminte dijalankan oleh Dewan Haminte yang diketuai oleh asisten residen sebagai Kepala Daerah. Tahun 1916 diangkat Walikota Surabaya pertama, A. Meyroos yang bertugas sampai tahun 1921. Baru setelah wali kota yang kedua, G.J. DIJKERMAN, terpilih, rencana membangun gedung Balai Kota diwujudkan. Gedung utama Balai Kota di Taman Surya di daerah Ketabang itu mulai dibangun pada tahun 1923 dan mulai ditempati pada tahun 1927. Arsiteknya ialah C. Citroen dan pelaksanaannya H.V. Hollandsche Beton Mij. Biaya seluruhnya, termasuk perlengkapan dan lain-lainnya, menghabiskan dana sekitar 1000 gulden. Pemandangan gedung Balai Kota Surabaya di waktu malam hari. Ukuran gedung utama : panjang 102 m dan lebar 19 m. Konstruksinya terdiri dari tiang-tiang pancang beton bertulang yang ditanam, sedangkan dinding-dindingnya diisi dengan bata dan semen. Atapnya terbuat dari rangka besi dan ditutup dengan sirap, Belakangan atap ini kemudian diganti dengan genteng. Setelah Republik Indonesia diproklamirkan, dilantiklah Radjamin Nasution sebagai Walikota Kota Besar Surabaya. Berdasarkan Penpres 1959 No. 16 maka ditetapkan Walikota menjadi Kepala Daerah Kota Surabaya. Tahun 1965 Kotapraja Surabaya resmi menjadi Kotamadya. Sumber: Wikipedia
Surabaya Landmark by Royyan Wijaya (RoyyanWijaya),arsitektur,desain ikon,ilustrasi
GEDUNG BALAI PEMUDA SURABAYA Balai Pemuda di kota Surabaya adalah salah satu gedung bersejarah (cagar budaya) yang dilindungi oleh Pemerintah Kota Surabaya. Sumber: Wikipedia
Surabaya Landmark by Royyan Wijaya (RoyyanWijaya),arsitektur,desain ikon,ilustrasi
HOUSE OF SAMPOERNA Bangunan bergaya arsitektur kolonial Belanda ini dibangun pada tahun 1862 dan sekarang telah menjadi cagar budaya dan warisan sejarah. Sebelumnya, bangunan ini digunakan sebagai panti asuhan dengan Belanda sebagai pengelola yang pada tahun 1932 dibeli oleh Liem Seeng Tee, pendiri Sampoerna, dengan tujuan untuk membuat tempat produksi rokok terbesar pertama untuk Sampoerna. Bangunan ini terdiri dari auditorium besar, dua bangunan kecil di sisi timur dan barat, dan juga beberapa ruang terbuka besar berlantai satu yang terletak di belakang auditorium. Bangunan-bangunan kecil tersebut telah diubah menjadi rumah kediaman dan juga gudang besar yang digunakan sebagai tempat untuk menyimpan alat-alat untuk memproses tembakau dan cengkeh, alat untuk mencampur, melinting dan alat untuk mengemas barang, alat untuk printing, dan alat untuk proses akhir. Sekarang ini, bangunan tersebut masih berfungsi sebagai tempat produksi untuk salah satu pabrik rokok paling bergengsi di Indonesia, yaitu Dji Sam Soe. Pada peringatan ulang tahun ke-90 Sampoerna pada tahun 2003, bagian-bagian inti dari bangunan tersebut dipulihkan dan dibuka untuk umum. Auditorium besar itu kini menjadi museum dan toko. Area di sisi timur sudah diubah menjadi bangunan yang unik, dan telah digunakan sebagai cafe dan galeri dan pameran. Sedangkan area di sisi barat tetap dipertahankan fungsinya sebagai rumah hunian. Sumber: http://houseofsampoerna.museum/e_historybeauty_main.htm Diterjemahkan oleh: Hakiki Arka
You've liked some projects from this user.

VISITOR COMMENTS
Please log in to post visitor message..
PROJECT BY

ABOUT THE PROJECT
Seperti judulnya, isinya ya kumpulan Landmark di Surabaya

Uploaded 20 February 2017

TAGS

STATISTICS
5240 views
4 likes
2 comments